Jumat, 21 Oktober 2011

DETEKSI DINI KANKER


S K R I N I N G
Skrining sama artinya dengan deteksi dini atau pencegahan sekunder, mencakup pemeriksaan (tes) pada orang-orang yang belum mempunyai simptom-simptom penyakit untuk menemukan penyakit yang belum terlihat atau pada stadium praklinik.
Dasar skrining : bila diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan sebelum timbul tanda atau simptom, maka prognosis keberhasilan akan lebih baik dari pada bila sudah terjadi tanda / simptom.
Bila pengobatan pada stadium lanjut : keadaan pasien lebih buruk, pilihan terapi lebih sulit, biaya akan lebih mahal, prognosis akan lebih buruk.
Bila pengobatan pada stadium dini / preinvasif : keadaan pasien masih baik, pilihan terapi lebih mudah, biaya lebih murah, prognosis akan lebih baik. Dapat dikatakan penyembuhan dapat berhasil sampai 100% (sembuh total).  
Skrining untuk populasi besar : skrining massal (“mass screening”)
Tujuan skrining massal (mass screening) : menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit dalam masyarakat melalui deteksi dini dan pengobatan pada keadaan belum terdapat simptom.
·   Penyakit yang mempunyai akibat yang serius, fatal, morbiditas lama, mortalitas tinggi.
·       Penyakit itu harus mempunyai cara pengobatan, dan bila digunakan pada kasus yang ditemukan melalui skrining, efektifitasnya harus lebih tinggi.
·       Penyakit itu mempunyai fase praklinik yang panjang dan prevalensi yang tinggi diantara populasi yang diskrining. Kalau prevalensi rendah, yang terdeteksi juga akan rendah.
·       Tes yang dipakai harus memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi, dan biaya pemeriksaan tidak mahal.

KANKER SERVIKS UTERI
Angka kejadian di Indonesia tinggi dan sebagian besar ditemukan pada stadium lanjut.
Di dunia : urutan ke 5. Di Indonesia : urutan pertama.
Di negara berkembang, sampai 471.000 kasus baru ditemukan per tahun, lebih dari 50% ditemukan dalam stadium lanjut.
Mulai meningkat pada usia 20 tahun dan menetap sesudah umur 50 tahun.
Karsinoma in situ meningkat dengan puncak pada usia 30-34 tahun.
Displasia meningkat dengan puncak pada usia 20-29 tahun.

Pemeriksaan penunjang pada kanker serviks
·       Tes Papanicolaou (PAP) smear : sitologi eksfoliasi serviks.
·       Kolposkopi : teropong vagina / vulva / serviks
·       Gineskopi : teropong monocular, ringan, pembesaran 2.5 x (lebih sederhana dari kolposkopi)
·   Inspeksi serviks : visual dengan neck eyes pada serviks (+ larutan asam asetat 3-5%)
·       Servikografi
·     Konisasi : biopsy bentuk kerucut, dapat dengan pisau, kauter atau LLETS (Large Loop Excision of the Transformation Zone).
·       PAPNET : Pap Smear yang diolah untuk screening dengan komputerisasi.
·     Tes HPV-DNA (Probing) : pemeriksaan tipe HPV dengan hibridasi DNA.
·       Paling Ideal : Pap Smear, jika abnormal : dilanjutkan kolposkopi, biopsy.
Program pemeriksaan / skrining yang dianjurkan untuk kanker serviks (WHO) :
·       Skrining pada setiap wanita minimal satu kali pada usia 35-40 tahun.
·  Kalau fasilitas tersedia, lakukan tiap 10 tahun pada wanita usia 35-55 tahun.
·   Kalau fasilitas tersedia lebih, lakukan tiap 5 tahun pada wanita usia 35-55 tahun.
·     Ideal dan optimal, lakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 25-60 tahun.
American College of Obstetrician and Gynecologist (ACOG), anjuran :
·       Pemeriksaan pada wanita yang “sexually active”.
·       Pemeriksaan pada wanita di atas 18 tahun.
Di negara berkembang seperti Indonesia (dana terbatas) : 
·       Pemeriksaan pada wanita 35-50 tahun.
·       Pap smear minimal 1 kali
·  Pada Pap abnormal, alternatif langsung terapi saja karena biopsy / kolposkopi mahal.

Down-staging : alternatif lain deteksi dini kanker serviks
Upaya untuk menemukan kanker serviks pada stadium lesi prakanker / stadium invasive dini.
Tujuan upaya down staging :
·       Mendapatkan kanker serviks pada stadium lebih awal.
·       Pengobatan diharapkan berhasil lebih baik.
·       Teknik : inspeksi serviks inspeculo dan pulasan asam asetat 3-5%, jika ada daerah lesi akan berwarna bercak putih. Ada kecurigaan sedikit saja, langsung dirujuk.
·       Pelaksanaan harus terorganisasi dan integrasi.
Pemeriksaan inspeksi serviks dengan asam asetat 3-5% : IVA (inspeksi visual asam asetat) atau IVA B (inspeksi visual asam asetat dengan pembesaran gineskopi). Dikembangkan dari para ahli di Johns Hopkins Universityn Baltimore, USA : Guidelines of Unaided Cervical visual inspection.
Alat sederhana, biasa disediakan di klinik dimana-mana : speculum, swab lidi kapas, sarung tangan, asam asetat/asam cuka 3-5%, kamera foto biasa jika perlu, untuk mengambil gambar kalau mencurigakan. Teknik mudah, dapat dilakukan oleh bidan, dokter umum, perawat, bahkan KO-AS !!
Pap Smear
Diperkenalkan tahun 1928 oleh Dr. George Papnicolou dan Dr. Aurel Babel dan mulai populer tahun 1943. pemakaian spatula diperkenalkan pada tahun 1947 oleh Dr. J. Ernest Ayre.
Prinsip Dasar Pap Smear
·       Epitel permukaan selalu akan mengelupas (eksfoliasi) dan diganti lapisan epitel di bawahnya.
·       Epitel permukaan merupakan gambaran keadaan epitel jaringan dibawahnya juga.
Sel-sel yang berasal dari eksfoliasi serviks diambil dan diwarnai secara khusus, sel-sel yang abnormal dapat terlihat di bawah mikroskop. Seorang ahli sitologi dapat membedakan tingkat displasia sampai kanker dengan pemeriksaan ini.

KANKER OVARIUM
Urutan ke 14 dunia (negara maju maupun negara berkembang)
Di Indonesia, 1990, urutan ke 6.
Urutan ke 7 diantara kanker yang terdapat pada wanita di dunia. Di Indonesia ke3.
Angka kematian karena keganasan pada wanita : kanker ovarium urutan kedua setelah kanker serviks.
Bila ditemukan stadium I : five-year-survival rate 72,8%. Bila proses masih terbatas di dalam panggul, 95%. Bila ditemukan pada stadium lanjut : 8%.
Banyak masalah juga, misalnya di RSCM :
·       85 % kasus rujukan
·       36% datang pada stadium III-IV
·       37% penatalaksanaan tidak dapat optimal
Deteksi dini kanker ovarium
Dengan pemeriksaan pelvik, rektovaginal.
Jika ada tumor / massa di daerah pelvis wanita, pikiran kemungkinan ganas dulu!!

Kemungkinan massa pelvis adalah kanker ovarium :
·       Jika ukuran diameter kurang dari 5 cm, kemungkinan 3%.
·       Jika ukuran diameter antara 5-10 cm, kemungkinan 19%.
·       Jika ukuran diameter lebih dari 10 cm, kemungkinan 97%.
Pemeriksaan ultrasonografi (tranvaginal), color Doppler Duplex / Triplex.
Tumor marker : BRCA I, kromosom 19q21, Ca125, Ca19-9, AFP
Tumor marker adalah bahan yang dilepaskan sel tumor ke darah / cairan tubuh dalam bentuk, konsentrasi dan jumlah yang berbeda dari normal.
Sifat ideal tumor marker : spesifik dari tumor ganas, jumlah cukup, dapat diukur dengan tepat, mudah dideteksi pada kelainan / pertumbuhan dini.
BRCA : gen precursor terjadinya kanker ovarium / payudara / kolorektal / endometrium.
Bentuk lesi yang dicurigai sebagai keadaan pra kanker yang terdapat dipermukaan ovarium yang menderita kanker, belum dapat dibuktikan (plaxale). Sehingga metode skrining yang efektif pun belum dapat ditemukan. Lesi itu mungkin suatu bentuk pra kanker, tapi mungkin juga merupakan kelaianan lanjut akibat proses kankernya. Jika dapat dibuktikan bahwa lesi tersebut mendahului kanker dan kemudian berkembang menjadi invasive, maka hal ini dapat dijadikan dasar untuk deteksi dini kanker ovarium.
KANKER ENDOMETRIUM
Di negara maju semakin meningkat sejak pertengahan abad 20.
Diduga penyebab karena : jumlah wanita dengan usia lanjut makin meningkat, makanan tinggi kalori dan lemak, pemakaian estrogen tanpa kombinasi progesterone untuk kontrasepsi pada tahun 1960-1970.
Deteksi dini kanker endometrium :
Skrining
Kanker ini didahului oleh lesi prakanker sehingga sebesarnya cocok juga untuk diadakan program skrining.
Misalnya :
·       Dinding kavum uteri sulit dicapai secara pemeriksaan klinik.
·       Harus melalui prosedur yang tidak semula kanker serviks.
·   Sel endometrium lebih kohesif, menempel ke basal, sel yang bereksfoliasi sedikit.
·       Keasaman vagina dapat menyebabkan degenerasi sel eksfoliasi.
Cara mendapatkan sampel : aspirasi sitologi dan biopsy hisap (suction biopsy) menggunakan suatu kanul khusus.
·       Alat : novak, serrated novak, kovorkian, explora (mylex), pipelly (uniman), probet.
·       USG : tebal endometrium di atas 5 mm pada usia perimenopause

KANKER VULVA DAN VAGINA
Kanker vagina terutama mengenai wanita berusia di atas 50 tahun, dan distribusi umur tidak berbeda dengan kanker vulva. Kanker ini sering terjadi pada kanker epitel lainnya yang secara embriologis berasal dari daerah yang sama seperti anus, eretra, rectum.
Faktor resiko kanker vulva dan vagina tidak berbeda dengan kanker serviks, terutama yaitu penyakit hubungan seksual seperti herpes, kondiloma.
Faktor resiko lainnya yaitu rokok dan karotenoid yang terdapat dalam sayur-sayuran hijau
Ada penelitian yang menunjukkan hubungan signifikan antara paparan terhadap obat diethylistilbestrol (DES) pada saat kehamilan janin wanita, dengan angka kejadian adenokarsinoma vagina pada anak tersebut setelah usia pubertas (efek teratogenik).
Seperti halnya kanker serviks, kanker vulva dan vagina juga diawali dengan lesi prakanker. Lesi prakanker vulva dan vagina sering ditemukan secara kebetulan sewaktu skrining untuk kanker serviks.   



FRANSISCA BINTANG THERESIA NAINGGOLAN

0 komentar:


Kaskus

Only


:ilovekaskus

:iloveindonesia

:kiss

:maho


:najis

:nosara

:marah


:berduka


:malu:

:ngakak

:repost:

:repost2:


:sup2:

:cendolbig

:batabig

:recsel



:takut

:ngacir2:

:shakehand2:

:bingung


:cekpm

:cd

:hammer

:peluk



:toast

:hoax:

:cystg

:dp


:selamat

:thumbup

:2thumbup

:angel


:matabelo


:mewek:

:request

:babyboy:


:babyboy1:

:babymaho

:babyboy2:

:babygirl


:sorry


:kr:

:travel

:nohope


:kimpoi

:ngacir:

:ultah

:salahkamar


:rate5

:cool


:bola


by Pakto


:mewek2:

:rate-5

:supermaho

:4L4Y


:hoax2:


:nyimak

:hotrit

:sungkem


:cektkp

:hope

:Pertamax

:thxmomod


:laper


:siul

:2malu:

:ngintip


:hny

:cendolnya


by misterdarvus


:maintenis:


:maintenis2:

:soccer

:devil


:kr2:

:sunny

Poskan Komentar